Cara Mengatur Gaji 5 - 10 Juta Agar Bisa Nabung Setiap Bulan

Cara Mengatur Gaji 5 - 10 Juta Agar Bisa Nabung Setiap Bulan

Gaji 5 - 10 juta terdengar cukup menjanjikan. sebab, gaji rata-rata daerah di indonesia adalah 3.6 juta. sayangnya, dalam gempuran tren dan gaya hidup konsumerisme, dimana pembalian suatu barang lebih sering didorong oleh keinginan, menyebabkan orang menjadi boros dan konsumtif. fenomena ini diperparah oleh literasi finansial yang minim, kedisplinan yang kurang dan tuntutan gengsi.

Sebesar apapun penghasilan kamu, tanpa adanya perencanaan dan strategi yang tepat. uang kamu bisa cepat habis. banyak orang merasa uang nya selalu kurang, padahal dengan strategi yang tepat, penghasilan 5 - 10 juta cukup untuk memenuhi banyak sektor seperti kebutuhan, investasi dan kesenangan diri. kamu tak perlu khawatir, artikel ini akan membantu kamu membangun pemahaman dasar dengan strategi yang praktis dan mudah di pahami.

1. Memilih Metode Budgeting

mengutip Nerdwallet, Sebelum memilih Metode Budgeting yang akan kamu pakai dalam pengelolaan uangmu, kamu diharuskan mencermati kondisi, kebiasaan dan perilaku kamu terlebih dahulu. ini memastikan strategi  tersebut cocok dan realistis dengan tujuan kamu. Strategi ini dapat membantu kamu melakukan budgeting dengan sangat mudah. dengan ditambah tujuan finansial yang jelas, akan selalu memastikan kamu tetap terarah dan termotivasi menuju keamanan finansial di masa depan.

berikut beberapa contoh Metode budgeting yang populer:

1. Metode 50/30/20

Metode ini dicetuskan oleh Elizabeth Warren, Senator AS sekaligus penulis buku finansial best-seller. metode ini awalnya di populerkan melalui buku nya yang berjudul All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan. sederhananya, Metode ini membagi pengeluaran menjadi 3 kategori yaitu: Kebutuhan atau Needs (50%), Keinginan atau Wants (30%), Tabungan atau savings (20%). Kebutuhan mencakup biaya hidup dan kebutuhan dasar yang tidak dapat dinegosiasikan, menunjang kehidupan sehari-hari dan pekerjaan. contohnya meliput cicilan/sewa tempat tinggal, sembako dan makanan pokok, Utilitas seperti biaya listrik, langganan internet dan air. Keingingan bisa berupa biaya gaya hidup seperti liburan, langganan layanan streaming, belanja pakaian. dalam kategori ini kita perlu cermat melihat dorongan dan skala prioritas. sebab orang-orang sering mengalami "Bocor Halus", kondisi dimana pengeluaran-pengeluaran kecil namun rutin yang sering diabaikan menjadikan kas membengkak. semisalnya: beli kopi, membeli barang-barang lucu yang tidak penting, memesan makanan online. Porsi terkecil adalah Tabungan, kamu wajib mengalokasikan sebagian dana kamu untuk tabungan, investasi atau asuransi. hal ini dapat menjadi jaring pengaman jika suatu hari nanti terjadi sesuatu yang dapat mengganggu finansial kamu. dengan begitu kamu mendapatkan rasa aman dan tenang di tengah iklim ekonomi yang cepat berubah.
 
Umumnya, metode ini sangat disarankan untuk seseorang yang baru memulai budgeting. filosofi di balik metode ini adalah menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan antara menikmati hidup saat ini sekaligus mengamankan finansial di masa depan. metode ini pun cukup fleksibel, misal kamu mengalami lonjakan kas dalam kategori kebutuhan, kamu dapat mengambil porsi dari kategori Keinginan (wants) dan menjadikannya 60/20/20. intinya, metode ini sangat sederhana, praktis dan fleksibel dapat menyesuaikan kondisi kamu.

2. Envelope System

metode ini cukup konservatif dan klasik, namun masih relevan. metode amplop ini juga cocok bagi mereka yang suka mengelola uang tunai. kekuatan dari metode ini berasal dari psikologi manusia itu sendiri. menambah hambatan pada proses pengeluaran, dengan memanfaatkan psikologi perilaku untuk mendorong konsumsi yang bijak. ide dasarnya adalah mengalokasikan uang tunai ke amplop fisik sesuai kategorinya. dengan ini kamu memiliki gambaran jelas berapa uang yang tersisa. ketika uang dalam amplop sudah habis, kamu harus berhenti melakukan pengeluaran dalam kategori tersebut sampai periode anggaran berikutnya.
kelebihan metode ini, kamu bisa melihat dan lebih sadar berapa uang yang tersisa, mencegah pengeluaran impulsif seperti berbelanja online, mendorong disiplin dan memberikan ikatan yang lebih kuat terhadap kepemilikan uang kamu. namun, metode in kurang praktis untuk pengeluaran yang dilakukan secara online atau memerlukan pembayaran otomatis.

3. Pay Yourself First

seringkali orang menabung dari dana yang tersisa setelah semua kebutuhan hidup dan tagihan terbayar. sedangkan dalam metode ini, paradigma konvensional tersebut dibalik, mengubah skala prioritas tabungan menjadi paling tinggi. metode ini menekankan disiplin finansial memastikan tujuan keuangan jangka panjang. setelah kamu mengalokasikan dana untuk tabungan, barulah kamu mengeluarkan mengalokasikan dana yang tersisa untuk kebutuhan yang lain. metode ini cocok untuk kamu yang memiliki target jangka panjang seperti menabung untuk menikah, membeli kendaraan secara tunai atau dana pensiun. begitu kamu sudah terbiasa disiplin menabung rutin setiap bulan, kamu semakin dekat dengan masa depan finansial yang aman.
 

Contoh di atas hanya beberapa dari beragam metode budgeting lain misalnya: Zero-Based Budgeting, Kakeibo, Activity-based Budgeting. kamu bisa mengeksplorasi dan mulai menerapkan metode yang cocok dengan kamu.

2. Mencegah "Latte Factor"

Latte Factor adalah istilah yang diciptakan oleh David Bach, seorang pakar keuangan. menurut Bach, ada pengeluaran kecil sehari-hari yang sering diabaikan. namun, menciptakan efek akumulasi yang besar di anggaran kamu. 
contoh pengeluaran ini biasanya seperti memesan Kopi atau makanan di luar, belanja impulsif, biaya berlangganan dari layanan yang sebenarnya jarang kamu gunakan. berikut cara yang bisa kamu terapkan untuk mencegah hal ini.

1. Mengevaluasi Pengeluaran Keinginan 

Kategori ini seringkali tanpa sadar menyebakan bocor di keuangan. kurangi FOMO dengan menahan diri dari mengikuti tren atau ajakan konsumtif lainnya. Dalam prosesnya kamu di harapkan mampu cermat dalam melihat hal apa yang mendorong kamu ketika ingin membeli sesuatu, apakah hal itu benar-benar kebutuhan atau hanya perasaan impulsif saja. cobalah rutin melacak setiap pengeluaran sekecil apapun itu. gunakan aplikasi yang dapat membantu hal ini. 

2. Menghitung Dampak Akumulasi

langkah ini mampu menyadarkan kamu betapa mahalnya kebiasaan kecil tersebut. katakanlah kamu sering membeli Kopi seharga Rp. 30.000 di hari kerja, kalikan pengeluaran tersebut ke dalam satu bulan atau satu tahun.

  • Kopi: 30.000 X 6 hari/minggu X 4 minggu/bulan = 720.000
  • 720.000/bulan X 12 = 8.640.000 per tahun
sebuah angka yang fantastis untuk sebuah pengeluaran kecil yang rutin. bayangkan dana tersebut kamu alokasikan ke instrumen investasi. dana sebesar itupun dapat kamu jadikan sebagai dana darurat atau biaya hidup setidaknya 2 bulan. 

3. Melakukan Substitusi (Perubahan Kebiasaan)

Alih-alih menghilang kebiasaan meminum kopi, kamu bisa mencoba menjatahi dana untuk membeli kopi. kamu bisa menerapkan sistem amplop dengan mengalokasikan misalnya 300.000 rupiah untuk jatah ngopi kamu sebulan, ketika jatah tersebut habis, hindari untuk mengambil dana dari sumber lain. kamu juga bisa mencoba membeli tumbler dan membuat kopi kamu sendiri di rumah, jauh lebih murah daripada membeli kopi di kedai. tak hanya menghemat, cara ini pun dapat memberikan kamu pengetahuan baru tentang membuat kopi yang nikmat sesuai selera kamu.

Pada akhirnya, Latte factor adalah tentang kontrol diri dan kesadaran finansial. dampak akumulasi yang sering kamu abaikan hanya membuat kamu semakin jauh menuju kemerdekaan finansial di masa depan.

3. Memiliki Target Finansial

membuat target keuangan adalah langkah krusial guna memberikan motivasi dan arah dalam mengelola keuangan kamu. tips-tips sebelumnya akan runtuh tanpa target yang jelas, sebab target berguna sebagai kompas yang menjaga kamu tetap terarah. dengan memiliki target yang jelas dan spesifik kamu akan tahu persis berapa yang harus ditabung setiap bulan, berapa lama waktu yang dibutuhkan, dan instrumen investasi apa yang paling tepat untuk mencapainya. pastikan kamu dapat menjawab pertanyaan dasar 5W (What, When, Where, Who, Why). contoh: Aku akan mengumpulkan dana sebesar Rp50.000.000 dengan menabung Rp1.500.000 setiap bulan, yang harus tercapai paling lambat 15 Januari 2026 untuk membeli mobil yang dapat menunjang produktivitas.

Kesimpulan

Perlu dipahami bahwa ketiga tips di atas saling bergantung dan membentuk sebuah siklus keberhasilan finansial. Target finansial yang jelas akan sia-sia jika kamu tidak bisa mengelola keuangan kamu dengan baik, karena tanpa manajemen yang disiplin, uang akan habis sebelum mencapai tujuan. Begitu sebaliknya, strategi pengelolaan uang dan penghematan (seperti menghindari Latte Factor) perlu target finansial untuk terus berjalan dengan konsistensi dan motivasi yang kuat. sederhananya Target sebagai kompas dan Strategi adalah mesin penggerak. Saat keduanya bekerja selaras, disiplin menjadi kebiasaan, dan kamu akan secara otomatis mengalokasikan setiap rupiah penghasilan kamu. Dengan demikian, target bukan hanya tujuan akhir, melainkan alat ukur harian yang memastikan kamu berada di jalur yang benar menuju kemerdekaan finansial.

Posting Komentar untuk "Cara Mengatur Gaji 5 - 10 Juta Agar Bisa Nabung Setiap Bulan"