Bank Inggris Jaminkan Aset Berisiko £1,9 Miliar ke BoE

Bank Inggris Jaminkan Aset Berisiko £1,9 Miliar ke BoE
Image: Images George Rex (CC BY-SA 2.0) via Openverse

Bank-bank di Inggris menunjukkan tren yang mengkhawatirkan namun signifikan: semakin gencar menukarkan aset kredit berisiko tinggi mereka dengan uang tunai dari Bank of England (BoE). Data terbaru per 18 Agustus 2026 yang dipantau Reuters dari laporan BoE mengungkap lonjakan drastis dalam penggunaan aset berisiko kategori Level C sebagai jaminan. Fenomena ini bukan sekadar transaksi biasa; ini adalah indikator penting mengenai kondisi likuiditas perbankan dan potensi risiko yang dihadapi bank sentral.

Lonjakan Aset Berisiko Level C sebagai Jaminan Likuiditas

Pada pertengahan Agustus 2026, bank-bank Inggris menjaminkan aset Level C senilai £1,9 miliar, setara sekitar Rp 45,4 triliun, kepada BoE untuk mendapatkan dana segar berjangka enam bulan. Angka ini merupakan yang terbesar sejak Maret 2020 dan melonjak tiga kali lipat hanya dalam satu minggu. Secara kumulatif, BoE kini memegang sekitar £17,8 miliar aset Level C sebagai jaminan melalui fasilitas Indexed Long-Term Repo (ILTR). Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi setahun sebelumnya yang sekitar £8,7 miliar, dan jauh melampaui angka di bawah £1 miliar pada pertengahan 2024.

Aset Level C sendiri adalah kategori risiko tertinggi yang diterima BoE sebagai jaminan. Ini mencakup surat utang yang pembayarannya berasal dari kumpulan piutang kartu kredit, kredit kendaraan, hingga pinjaman rumah, yang sering disebut sebagai produk sekuritisasi. Mekanismenya sederhana: bank membutuhkan uang tunai untuk operasional, dan salah satu cara mendapatkannya adalah meminjam dari bank sentral dengan menyerahkan aset sebagai jaminan. Yang membedakan kali ini adalah jenis aset yang dijaminkan, yang bukan lagi hanya aset berkualitas tinggi, melainkan juga yang memiliki profil risiko lebih besar.

Mitigasi Risiko BoE dan Perbedaan Regulasi Global

Meskipun menerima aset berisiko, BoE tidak berdiam diri. Untuk melindungi diri dari potensi kerugian, bank sentral ini menerapkan kebijakan bunga pinjaman yang lebih tinggi dan “haircut” yang lebih besar. Haircut berarti BoE tidak memberikan pinjaman sebesar nilai penuh aset yang dijaminkan. Misalnya, jika aset bernilai £100, bank mungkin hanya menerima pinjaman kurang dari £100, dengan selisihnya berfungsi sebagai bantalan pengaman jika nilai aset tersebut anjlok di pasar.

Namun, kekhawatiran utama bukan pada fasilitas pinjaman itu sendiri, melainkan pada volume aset berisiko yang semakin besar. Kondisi ini meningkatkan eksposur BoE terhadap aset yang berpotensi sulit dijual jika kondisi pasar memburuk. Reuters bahkan menemukan bahwa beberapa produk berbasis pinjaman yang diterima BoE tidak lagi diperbolehkan sebagai jaminan oleh Bank Sentral Eropa (ECB) karena standar regulasi ECB yang lebih ketat. Produk sekuritisasi hipotek, misalnya, yang pernah menjadi pemicu krisis keuangan global 2008, masih diterima oleh BoE. Ini menimbulkan pertanyaan tentang perbedaan pendekatan risiko antara bank sentral utama dunia. William Allen, mantan kepala divisi pasar uang BoE, mengakui bahwa bank sentral memiliki alasan untuk menerima aset Level C, namun penggunaan yang berlebihan dapat mendorong praktik pemberian kredit yang lebih berisiko di kalangan bank komersial.

Indikator Pasar Swasta yang Lesu dan Implikasinya

Lonjakan penggunaan fasilitas BoE untuk aset berisiko juga bisa menjadi cerminan bahwa bank-bank di Inggris semakin kesulitan menjual aset-aset tersebut kepada investor di pasar swasta. Moyeen Islam, seorang analis pendapatan tetap dari Barclays, mengindikasikan bahwa minat investor terhadap kredit berisiko di pasar swasta mungkin tidak seramai sebelumnya. Situasi ini menunjukkan adanya kemungkinan pasar sekunder untuk aset-aset tersebut di luar BoE sedang lesu.

Dalam konteks pasar keuangan yang lebih luas, tren ini dapat dibandingkan dengan situasi di Indonesia, di mana penundaan IPO seperti kasus PT Swayasa Prakarsa (SWAP) yang belum mendapatkan Pernyataan Efektif dari OJK, juga menunjukkan adanya kehati-hatian investor atau regulator terhadap penawaran aset baru. Meskipun berbeda konteks, kedua fenomena ini menggarisbawahi pentingnya likuiditas pasar dan penilaian risiko. Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS, seperti yang terlihat baru-baru ini di angka Rp17.705, menunjukkan dinamika pasar mata uang yang berbeda dan bisa menjadi indikator stabilitas ekonomi yang relatif di wilayah lain.

Meskipun kondisi saat ini tidak mengindikasikan krisis keuangan seberat 2008, peningkatan ketergantungan pada bank sentral untuk menukarkan aset berisiko tinggi adalah sinyal yang patut dicermati. Ini menyoroti potensi risiko jangka panjang bagi stabilitas keuangan jika bank terus-menerus didorong untuk mengambil risiko kredit yang lebih besar, dengan asumsi bahwa bank sentral akan selalu menjadi pembeli terakhir.

Informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat umum dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan. Pembaca disarankan untuk selalu memverifikasi informasi dengan profesional keuangan atau sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.

Posting Komentar untuk "Bank Inggris Jaminkan Aset Berisiko £1,9 Miliar ke BoE"