Apa itu Inflasi dan Kenapa Uangmu Bisa Turun Nilai

Pernah tidak kamu bertanya mengapa dengan kenaikan gaji tiap tahun, kamu masih merasa kesulitan memenuhi kebutuhan harian. meskipun uang kamu bertambah, daya beli justru melemah. Contoh: Uang Rp. 20.000 10 tahun lalu bisa membeli 2 mangkok Mie Ayam dengan Es Teh Sedangkan sekarang dengan uang yang sama hanya bisa membeli semangkok itupun belum dengan minumannya. Fenomena ini disebut Inflasi.

Dalam Artikel ini kita akan membahas detail Apa itu Inflasi, Penyebab Jenis-Jenis dan cara Menjaga Kekayaan kita tidak tergerus inflasi.

Apa Itu Inflasi

Inflasi dalam kamus ekonomi merujuk pada kenaikan harga barang dan jasa yang berkelanjutan pada rentang waktu tertentu. Akibatnya daya beli menurun, Nilai mata uang melemah dan jumlah uang yang sama hanya mampu membeli sedikit barang atau jasa dibandingkan sebelumnya. Inflasi tak hanya soal harga satu produk, melainkan dari perubahan harga di banyak sektor. Inflasi tidak selalu buruk. Inflasi yang rendah dan stabil (biasanya di angka 2-3%) menandakan ekonomi sedang bertumbuh karena masyarakat belanja dan perusahaan berproduksi.

Penyebab Inflasi

Inflasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor utama, di antaranya:

1. Kenaikan Permintaan (Demand-Pull Inflation)

Kondisi ini muncul ketika permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa meningkat drastis melebihi kemampuan produsen untuk memenuhi permintaan. Ketika permintaan tinggi, produsen cenderung menaikan harga yang menyebabkan inflasi.

Kenaikan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation)

Inflasi dapat terpicu ketika terdapat kenaikan biaya produksi, operasional dan bahan-bahan. Sederhananya, ketika harga gandum naik, maka harga mie instan dan roti ikut naik. Hal ini sering terjadi ketika ada kenaikan upah minimum, perusahaan cenderung membebankan biaya tersebut ke harga produksi.

Bottle-Neck Inflation

Ketika terdapat gangguan di jalur distribusi atau faktor penawaran dan permintaan di sektor krusial. Memaksa produsen menaikan harga dan dapat menyebabkan inflasi.

Jumlah Uang yang Beredar Terlalu Banyak

Ini berkaitan dengan kebijakan moneter. Jika bank sentral mencetak terlalu banyak uang atau suku bunga terlalu rendah (sehingga orang mudah meminjam uang), jumlah uang di masyarakat akan melimpah. Sederhananya, semakin banyak uang yang beredar, maka nilai mata uang menjadi lebih rendah (tidak langka lagi). Hal ini membuat harga barang terasa naik padahal nilai uangnya yang merosot

Inflasi Dalam Negeri (Domestic Inflation)

Inflasi yang didorong oleh faktor dalam negeri seperti kebijakan moneter baru, gagal panen nasional, anggaran belanja negara yang melebihi pendapatan dan pencetakan uang baru.

Inflasi Luar Negeri (Imported Inflation)

Inflasi ini dipengerahui oleh keadaan geopolitik dan iklim ekonomi global. Kenaikan barang impor yang menyebabkan harga produksi naik.

Jenis-Jenis Inflasi

Inflasi dibagi ke dalam 4 kategori berdasarkan tingkat kenaikannya:
  • Inflasi Ringan (< 10% per tahun): Kenaikan harga masih wajar dan mudah dikendalikan. Daya Beli masih seimbang dengan kenaikan harga produksi dan barang. Bahkan Inflasi ini diperlukan untuk memacu roda ekonomi yang berkelanjutan. 
  • Inflasi Sedang (10% – 30% per tahun) Mulai terasa dampaknya terutama bagi yang memiliki penghasilan tetap. mereka mulai mengalami penurunan daya beli. Perlu usaha keras pemerintah untuk menekan kembali ke Angka wajar.
  • Inflasi Berat (30% – 100% per tahun): Kondisi ini ditandai dengan fenomena orang-orang menarik uang di bank dan mulai menimbun barang. Kenaikan Bunga Bank lebih rendah dari nilai inflasi. 
  • Hiperinflasi (> 100% per tahun): Nilai mata uang merosot jauh, Harga naik tak terkendali. Contoh terkenalnya adalah Zimbabwe dan Jerman setelah Perang Dunia I.

Menjaga Nilai Uang Dari Inflasi

Agar Uang kamu terjaga dari inflasi, kamu jangan membiarkan uangmu diam dalam bentuk tabungan atau tunai. Kamu harus memindahkan Kekayaan kamu ke ase yang nilai tumbuhnya lebih tinggi dari laju inflasi. 
Berikut adalah beberapa cara efektif untuk menjaga kekayaan dari inflasi:

1. Investasi di Pasar Modal (Saham & Reksa Dana)

Dalam jangka panjang, saham perusahaan dimana kamu menanamkan danamu dapat memberikan imbas hasil (return) yang jauh melampaui inflasi. Kamu bisa mulai menama
Dalam jangka panjang, saham perusahaan yang sehat biasanya memberikan imbal hasil (return) yang jauh melampaui inflasi. Cobalah berinvestasi Saham yang memiliki performa baik. Bagi pemula, kamu bisa mencoba reksadana yang dikelola manajer investasi.

2. Membeli Aset Riil (Emas & Properti)

Emas dan Properti merupakan Aset fisik Nilai Lindung Terbaik. Keduanya memiliki nilai intristik yang tetap terjaga meskipun inflasi tinggi. Emas, erdasarkan Rekam jejaknya, mengalami kenaikan nilai drastis ketika terjadi inflasi dan krisis moneter. Tak hanya Emas, Properti juga selalu mengalami kenaikan tiap tahun. Selain itu, kamu bisa menghasilkan pendapatan pasif dari sewa yang harganya bisa kamu sesuaikan dengan kenaikan inflasi.

3. Instrumen Berpendapatan Tetap (Obligasi/SBN)

Pemerintah sering merilis Surat Berharga Negara (SBN) seperti ORI atau Sukri dengan bunga (kupon) yang biasanya dipatok sedikit di atas tingkat inflasi. Hal ini tentu lebih menguntungkan dibandingkan deposito bank yang bunganya seringkali di bawah inflasi dan terpotong pajak. 

4. Investasi pada Diri Sendiri (Up-skilling)

Meningkatkan kualitas dan kemampuan diri merupakan investasi terbaik. Pengetahuan yang tinggi membantu mencari peluang dalam menghasilkan uang. Daya tawar gajimu meningkat, Keuntungan bisnis juga bisa naik.

Penutup

Inflasi tidak dapat di hindari sebab ia adalah bagian dari roda perekonomian. Namun, memahaminya mencegah kita menjadi korban merosoknya nilai mata uang. Mulai lah ambil langkah memindahkan Uang kamu ke Instrumen Investasi yang melampaui inflasi alih-alih kehilangan dayanya hanya tersimpan di bawah bantal atau lemari besimu. Jangan hanya bekerja keras untuk uang, mulailah memastikan bahwa uang kamu juga bekerja keras untuk menghadapi masa depan.

Posting Komentar untuk "Apa itu Inflasi dan Kenapa Uangmu Bisa Turun Nilai"